🌾 Latar Belakang Berdirinya
Pada awal tahun 1990-an, kondisi pendidikan agama Islam di lingkungan Desa Adijaya, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, masih sangat terbatas. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan Al-Qur’an dan ilmu agama sebenarnya sudah cukup tinggi, namun sarana pendidikan serta tenaga pengajar yang tersedia belum memadai. Anak-anak di lingkungan desa sebagian besar hanya memperoleh pendidikan agama secara sederhana di rumah maupun melalui pengajian musiman.
Melihat kondisi tersebut, muncul keinginan dan kepedulian dari beberapa tokoh agama serta masyarakat untuk membangun sebuah wadah pendidikan Islam yang mampu membina generasi muda agar memiliki pemahaman agama yang baik, akhlak yang mulia, serta kecintaan terhadap Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman.
Pada pertengahan bulan Agustus tahun 1994 Masehi, bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 1415 Hijriyah, mulailah dirintis sebuah kelompok pengajian Al-Qur’an anak-anak yang sederhana. Kegiatan ini menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Darussalam Adijaya. Tempat belajar menumpang di bangunan bekas Madrasah Diniyah yang sudah tidak terpakai (kini menjadi TK Darussalam Adijaya). Meski fasilitas sangat terbatas, semangat para pendiri dan masyarakat tak pernah surut.
📖 Awal Perkembangan & Tradisi Salaf
Seiring waktu, kelompok pengajian berkembang. Santri yang telah khatam Al-Qur’an diarahkan untuk memperdalam ilmu agama melalui pembelajaran kitab kuning dengan metode sorogan dan bandongan. Kitab-kitab dasar yang dipelajari saat itu di antaranya:
Metode pembelajaran tradisional khas pesantren salaf menjadi pondasi awal terbentuknya karakter pendidikan salafiyah di Darussalam Adijaya. Semangat religius dan ketekunan santri menarik perhatian warga, sehingga banyak orang tua mulai mempercayakan pendidikan agama anak-anaknya.
🌙 Datangnya Santri Ramadhan & Tumbuhnya Tradisi Pesantren
Pada bulan Ramadhan tahun yang sama, perkembangan pendidikan semakin terasa ketika datang beberapa santri pondok khusus Ramadhan yang dipelopori oleh Kang Zaini, Kang Usman, serta rekan-rekan dari Raman Aji. Mereka meminta agar diadakan pengajian kitab khusus Ramadhan sebagai sarana memperdalam ilmu agama selama bulan suci.
Momentum ini menjadi titik penting dalam perjalanan sejarah Pondok Pesantren Darussalam Adijaya, karena sejak saat itu kegiatan pendidikan tidak lagi hanya sebatas pengajian anak-anak, tetapi mulai berkembang menjadi pembelajaran khas pesantren dengan kajian kitab-kitab keislaman secara lebih mendalam. Suasana Ramadhan yang dipenuhi kegiatan mengaji, tadarus, sorogan kitab, dan diskusi keagamaan semakin memperkuat semangat dakwah.
🕌 Berdirinya Pendidikan Diniyah Islamiyah Salafiyah
Memasuki bulan Syawal dan tahun ajaran baru berikutnya, tradisi kepesantrenan mulai tumbuh secara nyata. Pada masa inilah datang santri perempuan pertama dari Raman Aji, yaitu Mustabsiroh (Almh.) dan Siti Marwiyah. Kehadiran santri perempuan tersebut menjadi sejarah penting karena menandai berkembangnya sistem pendidikan yang lebih terbuka dan terorganisir.
Para tokoh agama, masyarakat, dan perintis pendidikan kemudian bermusyawarah untuk membentuk lembaga pendidikan Islam yang resmi dan terstruktur. Hasil musyawarah melahirkan lembaga bernama “Pendidikan Diniyah Islamiyah Salafiyah Darussalam Adijaya”. Lembaga inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Darussalam Adijaya seperti yang dikenal saat ini.
👥 Tokoh Pendiri & Perintis
Perjalanan awal berdirinya Pondok Pesantren Darussalam Adijaya tidak terlepas dari perjuangan dan pengorbanan para tokoh agama serta masyarakat yang dengan penuh keikhlasan membantu membangun dan mengembangkan lembaga ini.
Mereka adalah pilar dakwah, pendidikan, dan perkembangan pesantren hingga saat ini.
📜 Perkembangan Yayasan dan Legalitas Lembaga
Dalam proses perkembangannya, lembaga pendidikan ini kemudian dinaungi oleh sebuah yayasan resmi bernama “Yayasan Darussalam Adijaya”. Yayasan tersebut telah berbadan hukum dengan Akta Notaris Nomor:
Dengan adanya legalitas tersebut, Pondok Pesantren Darussalam Adijaya semakin berkembang secara administratif maupun kelembagaan sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan, sarana prasarana, dan pelayanan kepada masyarakat.
🏫 Perkembangan Unit Pendidikan
Alhamdulillah, atas izin Allah SWT serta dukungan masyarakat, Pondok Pesantren Darussalam Adijaya terus mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sistem pendidikan yang diterapkan berkembang menjadi dua jalur pendidikan:
Pendidikan Non Formal / Salaf
- TPA / TPQ
- Madrasah Isti'dadiyah
- Madrasah Ibtidaiyah
- Madrasah Tsanawiyah
- Madrasah Aliyah
- Pengabdian/khitmah
- Pengajian Kitab Kuning
- Pendidikan Salaf
Pendidikan Formal
- TK Darussalam Adijaya
- MI Darussalam Adijaya
- MTs Darussalam Adijaya
- SMA Darussalam Adijaya
Perkembangan tersebut tidak hanya terlihat dari bertambahnya jumlah santri dan lembaga pendidikan, tetapi juga dari pembangunan gedung, asrama, ruang belajar, sarana ibadah, serta fasilitas pendidikan lainnya.
🤝 Peran Pondok Pesantren di Tengah Masyarakat
Pondok Pesantren Darussalam Adijaya tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat pembinaan akhlak, dakwah Islam, dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai kegiatan sosial dan keagamaan terus dilaksanakan, seperti:
Pesantren juga terus berupaya menjaga tradisi keilmuan Islam salafiyah dengan tetap mengikuti perkembangan pendidikan modern agar mampu mencetak generasi yang beriman, berilmu, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat.
✨ Penutup
Perjalanan panjang Pondok Pesantren Darussalam Adijaya merupakan bukti nyata dari perjuangan, keikhlasan, dan semangat dakwah para pendiri serta dukungan masyarakat dalam membangun pendidikan Islam. Dari sebuah pengajian kecil yang menumpang di bangunan sederhana, kini Pondok Pesantren Darussalam Adijaya telah tumbuh menjadi lembaga pendidikan Islam yang menaungi berbagai jenjang pendidikan formal maupun nonformal.
Dengan berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, Pondok Pesantren Darussalam Adijaya terus berkomitmen untuk mencetak generasi Qur’ani yang berakhlakul karimah, berilmu, serta mampu menjadi penerus perjuangan agama, bangsa, dan masyarakat.